Kamis, 08 Desember 2011

Islam Sebagai Ideologi

Sepeninggalan wafatnya Rasullullah SAW dan Khulafarasidin ditambah hilangnya kekuatan politik umat Islam Khilafah Islamiyah telah memporak-porandakan cara pandang hidup kaum muslimin. Pemahaman akan sebuah ideologi sudah dipatri pada konsep-konsep yang telah dihegemoni oleh barat sebagai sebuah pemahaman yang diklam sebagai pandangan yang rasional. Ideologi dalam bahasa adalah kumpulan ide-ide. maka tarikan dari sebuah ide mengacu pada cara berfikir. Kata berfikir ini selalu dikaitkan dengan filsafat yang juga menuntut untuk kita berfikir (Cogito ergo sum). Makna dari ideologi pun bermacam-macam. Mari kita telusuri apa itu ideologi.
• Destertt de Tracy:
Ideologi adalah studi terhadap ide – ide/pemikiran tertentu.
• Machiavelli:
Ideologi adalah sistem perlindungan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa.
• Thomas H:
Ideologi adalah suatu cara untuk melindungi kekuasaan pemerintah agar dapat bertahan dan mengatur rakyatnya.
• Francis Bacon:
Ideologi adalah sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup.
• Karl Marx:
Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.
• Napoleon:
Ideologi keseluruhan pemikiran politik dari rival–rivalnya.
• Taqiyuddin An-Nabhani:
Mabda’ adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda’ adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah.
Sehingga sebuah ideologi mampu menghasilkan pemikiran dan metode penerapannya. Tidak akan mungkin pemilu dikatakan sebagai penerapan Sosialisme. Atau meniadakan kepemilikan pribadi merupakan manifestasi kapitalisme.
Maka, ideologi yang ada di dunia meliputi tiga hal yaitu Sosialisme, Kapitalisme dan Islam. Sosialisme dan Kapitalisme merupakan ideologi yang bersumber dari cara berfikir manusia yang tentu saja akan menghasilkan sebuah kesalahan (no body is perfect). Ideologi Islam muncul dari Kalamullah yang disampaikan melalui Rasullulah SAW yang tentunya beliaulah sumber otoritas tertinggi dari pandangan Islam sehingga dalam ideologi Islam acuan yang dipakai adalah Al Quran dan As Sunnah.
Seberapa jauh Islam sebagai Ideologi
Islam adalah sebuah ajaran dari Allah yang dibawa oleh Syayidina Muhammad SAW yang mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dengan dirinya dan dengan sesamanya (Taqiyuddin An-Nabhani). Hubungan manusia dengan Khaliq-nya tercakup pada perkara aqidah dan akhlak. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup pada perkara akhlak dan kebutuhan biologis. Sedangkan untuk hubungan manusia dengan sesamanya tercakup pada perkara mu’ammalah.
Ajaran islam mencakup keseluruhan kehidupan manusia karena menjelaskan segala sesuatunya. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S An Nahl 89 :
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيداً عَلَى هَـؤُلاء وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Islam juga menuntut kita untuk mengacu pada hukum Allah sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Al Maidah 48-49 :
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ﴿٤٨﴾ وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ ﴿٤٩﴾
48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, 49. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
Maka sebagaimana firman Allah SWT Q.S Al Baqarah 85 :
ثُمَّ أَنتُمْ هَـؤُلاء تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقاً مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِن يَأتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاء مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Dalam derifasinya Islam merupakan ajaran yang bersifat spiritual dan politik. Ada konsep spiritualitas sekaligus bagaimana mengurusi umah dengan amalan-amalan mu’ammalah. Islam juga merupakan bangunan system dimana dengan jelas ketika melakukan kegiatan Ibadah ada aturan yang dipakai. Sehingga mengurusi umah sebagai kegiatan mu’ammalah harus memakai bangunan islam yang tentunya ada aturan mainnya. Sehingga letak Ideologis Islam yaitu terpenuhinya unsur pembentuk Ideologi yang mana merupakan kumpulan ide-ide dan dijadikannya sebagai ‘way of Life’. Islam punya pemikiran dan cara mewujudkan pemikirannya.